Tuesday, July 8, 2014

[Book Review] The Lovely Bones by Alice Sebold

Title : The Lovely Bones
Writer : Alice Sebold
Publisher : Little, Brown and Company
Format : Paperback, 328 pages
Bought : Kuala Lumpur Book Fair '13 (RM 8)
Publishing date : Movie tie-in ed, October, 2009
Language : English
Genre : YA fiction,contemporary, fantasy, mystery, drama
Read on June, 22nd 2014
My rating : 3.5 of 5

The Lovely Bones is the story of a family devastated by a gruesome murder -- a murder recounted by the teenage victim. Upsetting, you say? Remarkably, first-time novelist Alice Sebold takes this difficult material and delivers a compelling and accomplished exploration of a fractured family's need for peace and closure. The details of the crime are laid out in the first few pages: from her vantage point in heaven, Susie Salmon describes how she was confronted by the murderer one December afternoon on her way home from school. Lured into an underground hiding place, she was raped and killed. But what the reader knows, her family does not. Anxiously, we keep vigil with Susie, aching for her grieving family, desperate for the killer to be found and punished. Sebold creates a heaven that's calm and comforting, a place whose residents can have whatever they enjoyed when they were alive -- and then some. But Susie isn't ready to release her hold on life just yet, and she intensely watches her family and friends as they struggle to cope with a reality in which she is no longer a part. To her great credit, Sebold has shaped one of the most loving and sympathetic fathers in contemporary literature.

Susie, begitu ia disapa. Usianya 14 tahun ketika ia tewas dibunuh oleh tetangganya sendiri George Harvey, seorang pria pshyco penyendiri. Meskipun telah membunuh Susie dan membuang anggota tubuhnya di tempat pembuangan, Harvey sangat profesional menutup jejaknya. Kematiannya menjadi misteri bagi keluarga, lingkungan, dan sahabat yang ia tinggalkan. Susie mungkin sudah tewas, tetapi dari surganya dengan senantiasa dia mengikuti setiap orang-orang yang dicintainya bahkan pembunuhnya. Dengan seluruh kenyamanan yang dia dapatkan di Surga-nya bukan berarti Susie menikmati tinggal di Surga itu, dalam hati terdalamnya adalah kehidupan di bumi yang ia impikan.
“Heaven is comfort, but it's still not living.” - p.
Keluarga yang dia tinggalkan pun sama menderitanya dengan Susie, Ibunya - Abigail tidak dapat menerima kematian putrinya dan memutuskan untuk meninggalkan keluarganya. Ayah dan adik perempuannya beranggapan bahwa pembunuh Susie adalah tetangganya Mr. Harvey dan terobsesi untuk menangkapnya, sayangnya mereka tidak memiliki cukup bukti yang kuat. Dua sahabat Susie lainnya yang juga selalu dibayangi oleh kematian Susie adalah Ray Singh dan Ruth Connors. Ray Singh adalah ciuman pertama yang Susie alami di bumi, dia juga di duga sebagai tersangka pembunuhan Susie oleh polisi karena dia adalah orang terakhir yang ditemui Susie sebelum kematiannya. Sedangkan Ruth Connors adalah gadis yang sensitif terhadap dunia metafisik, Ruth "disentuh" oleh raga Susie saat kematiannya sehingga ia menjadi penasaran dengan kematian Susie.
“Because horror on Earth is real and it is every day. It is like a flower or like the sun; it cannot be contained.” - p.
Kisah diceritakan dari sudut pandang Susie ketika ia berada di "In Between", tempat di antara dunia dan surga yang sesungguhnya. Susie hanya bisa pergi ke surga yang sesungguhnya apabila ia mampu merelakan kehidupannya di dunia. Setting waktu di buku ini cukup lama, yaitu dari tahun 1973 hingga 1983. yang berati sepuluh tahun setelah kematian Susie. Di Amerika sendiri buku ini terlahir sebagai Phenomenal Best Seller. Yap...fenomenal, karena disamping banyaknya komentar positif diikutinya juga dengan berbagai komentar negatif. Hal yang dipandang negatif adalah mengenai penggambaran Surga yang ditulis oleh Mrs. Sebold, sebagian besar pembaca mempertanyakan tentang aspek keagamaannya. Meskipun begitu, secara kesulurah buku ini bagus dan layak untuk dibaca. Meskipun saya agak sedikit kesal, karena pembunuh utama dibuku ini tidak diganjar dengan layak.

credit : pinterest
"Mesmerizing... The Lovely Bones takes the stuff of neighborhood tragedy and turns it into literature." 
- New York Times Book Review
"Sebold teaches us much about living and dying, holding on and letting go, as messy and imperfect and beautiful as the processes can be - and has created a novel that is painfully fine and accomplished, one which readers will have their own difficulties relinquishing, long after the last page is turned." - Los Angeles Times
Pembaca yang penasaran dengan gambaran Surga dari sudut pandang Mrs. Sebold, pembaca yang ingin membaca novel bertema misteri dengan sentuhan drama keluarga, dan para pembaca buku Jodi Picoult pasti juga akan menikmati buku ini.
Inside the snow globe on my father's desk, there was a penguin wearing a red-and-white-striped scarf. When I was little my father would pull me into his lap and reach for the snow globe. He would turn it over, letting all the snow collect on the top, then quickly invert it. The two of us watched the snow fall gently around the penguin. The penguin was alone in there, I thought, and I worried for him. When I told my father this, he said, "Don't worry, Susie; he has a nice life. He's trapped in a perfect world.
      My name was Salmon, like the fish; first name, Susie. I was fourteen when I was murdered on December 6, 1973. In newspaper photos of missing girls from the seventies, most looked like me; white girls with mousy brown hair. This was before kids of all races and genders started appearing on milk cartons or in the daily mail. It was still back when people believed things like that didn't happen.
Tidak ada lagu lebih cocok dan melow selain Dear God by Avenged Sevenfold.
Happy reading fellas!


2 comments:

  1. Penasaran jadinya, am gonna read this one...

    ReplyDelete
  2. waa, udah ada blum ya bukunya di gramed?

    ReplyDelete

Free Speech is Human Right! Speak up! Voice your opinion below. XO